|
Bicara tentang rasa percaya diri sesungguhnya tak terlepas dari kemampuan kita untuk melihat harapan dalam situasi yang kita hadapi. Di edisi minggu ini. minggu ke-4 Februari 2010, aku memutuskan untuk mengupas tentang harapan itu untuk dapat kita renungkan dan petik pelajarannya. |
|
Kenal dengan sang harapan? Salah satu yang membuat hatiku masygul adalah apabila teringat betapa hopeless-nya bangsa ini. Indonesia seperti gemar hidup tanpa harapan.
Di mana-mana, seringkali aku menemukan orang yang sinis atau tak acuh karena tak percaya. Tak percaya ada harapan dari keadaan atau situasi atau kondisi yang dinilainya. Aku menemukan banyak orang yang begitu takut berharap sehingga memilih untuk membatasi harapannya dengan alasan-alasan yang negatif dan sederhana: takut sakit hati. Atau takut kecewa. Atau takut gak kesampean [maksudnya takut tidak jadi kenyataan]. Intinya: takut. |
|
Hidup makin sulit?Nyatanya tambah usia, kita tambah mudah jadi bahagia Orang sering beranggapan bahwa masa indah dan bahagia hanya akan terjadi pada usia muda. Itu sebabnya orang ingin awet muda, karena usia belia dianggap sama artinya dengan hidup bahagia. Masyarakat kerap beranggapan hidup akan makin tak bisa dinikmati seiring bertambahnya usia. Benarkah?
Bila anggapan ini diaminkan, maka kita sering bersikap permisif terhadap berbagai kebiasaan buruk yang biasa muncul saat seseorang bertambah tua. Seperti kalangan muda yang mulai merokok saat memasui usia dewasa, atau para pria yang berselingkuh saat mereka memasuki 'krisis' usia pertengahan [40-an]. Adalah Heather Lacey, Ph.D dan rekannya Prof. Peter Ubel, para peneliti kedokteran dan psikologi dari Universitas Michigan, Amerika Serikat, yang beranggapan berlawanan. Mereka berpendapat bahwa sebetulnya manusia akan beradaptasi terhadap segala masalah, dan seluruh pengalaman tersebut nantinya memudahkan mereka untuk meraih kebahagiaan. Sebetulnya, kematangan pribadilah yang akan menentukan tingkat kebahagiaan, bukan sekedar usia. |
|
|
|
<< Start < Prev 1 2 Next > End >>
|